Sarjana IAIN Walisongo Semarang terpilih Sebagai Sarjana Penulis Terbaik Bidang Agama Se Indonesia (Supersemar Award) Tahun 2010

Sebelas sarjana penulis skripsi terbaik bersorak gembira mendapat penghargaan Rp15 juta dan bea siswa hingga jenjang S-3 dari Yayasan Supersemar di Gedung Granadi, Jakarta, Selasa (8/6). Di antara 11 Sarjana tersebut adalah Sarjana dari IAIN Walisongo Semarang yaitu Inarotuul Ain, dari Fakultas Ushulusddin Jurusan Tafsir Hadits. Sosok yang Cantik dan cerdas ini dulu juga pernah belajar di Mts dan MA Darul Amanah Sukorejo Kendal yaitu sebuah pesantren modern alumni Pesantren Darussalam Gontor dan Fillial Pesantren Darunnajah Jakarta.dar

“Penulisan skripsi disaring dari 500 peserta dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia,” kata Ketua Pelaksana Supersemar Award 2010 Prof Dr Nasaruddin Umar MA. Hadir dalam acara itu antara lain, Mendiknas M Nuh yang mantan penerima beasiswa Supersemar, Ketua Yayasan Damandiri yang mantan Menko Kesra Prof Dr Haryono Suyono, Dewan Pembina Yayasan Supersemar Hj Siti Hediyati Hariyadi (Titiek Soeharto), dan mantan Menag Maftuh Basyuni, Bambang Trihatmodjo, dll.

Untuk 11 pemenang Supersemar Award 2010 itu terdiri dari tujuh dan empat mahasiswa, sedangkan 11 pemenang Supersemar Award 2009 terdiri atas 9 mahasiswi dan 2 mahasiswa.

Ke-11 pemenang Supersemar Award 2010, yaitu Ade Pranajaya dari Universitas Mahendradatta Denpasar (bidang Ilmu Ekonomi), Stepi Andriani dari Unpad Bandung (bidang ISIP), Wulandari dari Universitas Mataram (bidang Ilmu Pertanian), Inarotul Ain dari IAIN Walisongo Semarang (bidang Ilmu Agama).

Indah Sri Rahayu dari UNS Surakarta Jateng (bidang Ilmu Budaya), Qori Qonita dari UPI Bandung (bidang Ilmu Pendidikan), Benny Sumardiana dari Universitas Negeri Semarang (bidang Ilmu Hukum), Dwi Irawan dari Universitas Muhammadiyah Metro Lampung (bidang Ilmu Teknik).

Selanjutnya, Shinny Islamiyah dari Universitas Paramadina Jakarta (bidang Ilmu Psikologi), Lili Suryani dari STTP Gowa Sulsel (bidang Ilmu Peternakan) dan Beta Susanto Barus dari Universitas Riau Pekanbaru (bidang Ilmu Perikanan dan Kelautan).

Nazarudin Nazaruddin yang juga Dirjen Bimas Islam Kemnag mengatakan, penerima penghargaan adalah mahasiswa dan dinyatakan program sarjana S1 atau sarjana baru dari Perguruan Tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta. Para mahasiswa dan sarjana dinyatakan lulus skripsinya pada 2008, dengan IPK (Indeks Prestasi Komulatif) minimal 3.0 dan masa studi yang ditempuh maksimal 8 semester.

Persyaratan lain, ujar Nazaruddin Umar, Rektor Perguruan Tinggi hanya dapat mengajukan masing-masing satu buah skripsi untuk setiap kelompok bidang keilmuan.

Berkas copy skripsi dan Formulir Nominasi Penerima Supersemar Award 2009, dikirimkan ke Yayasan Supersemar, Gedung Granadi Lantai IV, Jl. HR Rasuna Said, Kav. 8-9 Kuningan, Jakarta Selatan 12950, disertai pengantar dari Rektor.

Para pemenang diberikan penghargaan piagam, medali, uang tunai dan bantuan penelitian tesis bagi mereka yang melanjutkan studinya pada program Pasca Sarjana (S-2). Serta kepada Perguruan Tinggi asal pemenang akan diberikan penghargaan dalam bentuk alokasi jatah beasiswa Supersemar untuk mahasiswa pada tahun 2011.

Nazarudin menyebutkan, pemenang lomba dinilai para juri terdiri dari 24 profesor dan doktor yang diketuai Prof Dr Edy Suhendi Hamid yang juga Ketua Forum Rektor pada HUT Yayasan Supersemar ke 36, 8 Juni 2010. Kesebelas pemenang menerima medali emas, dan uang Rp 15 juta.

”Kami akan terus memberikan beasiswa Supersemar ini. Melalui pemberian beasiswa ini Yayasan Supersemar merupakan sumbangsih membantu peningkatan sumber daya manusia Indonesia,” ujarnya.

by M. Akhsin Rosyadi

sumber: Pos Kota

Advertisements

The uniqueness of Islam and Cultural Java Interactions [1]

By: Prof.. Dr. Simuh

(Launched at the Seminar on Islamic Influence On Culture of Java, 31 November 2000)

From the description in passing on the front, imagine that there is no significant clash between Islam and Javanese culture. Even between the two sides seem to support each other and need each other. The Islamic missionaries who generally led the Sufis do not have the science to govern and do not want to take the government from the hands of Javanese kings.

They just need protection or assistance from the government. Similarly, the kings of Java really need the support of Muslims since the end of the Majapahit kingdom has been a real strength. For public boarding school, religion is the value of the number one and everything; instead of rulers and supporters of Javanese culture literature, position and political power are the number one and everything.

For supporters of the literary culture centered Kejawen environment Javanese kingdoms in the interior area, religion is number two. What religion does not matter as long as you used to strengthen their position and their political power. So after Sultan Agung pesisiran empire broke the pesantren community support, quickly realized the need to set a cultural strategy to connect the two cultural environments. Cultural environment, namely the literary culture of the pesantren with Arabic religious and cultural environment with literary Kejawen Javanese culture centered in the palace environment Javanese kingdoms. Strategies for and incorporate Islamic elements in the center of Javanese culture in Javanese culture change begins with the calculation based on the Saka year journey of the sun, the calculations are based on Java-year-month journey, and adapted to the calculation Hijri. Weekly Islamic consisting of seven days, integrated with Java Weekly consisting of five daily, the Wage Monday, Tuesday Kliwon, and so on. Thus the name of the months of Java tailored to the Islamic month names, the Sura, Mulud, and so on. Continue reading