Keunikan Interaksi Islam dan Budaya Jawa [1]

Oleh : Prof. Dr. Simuh

( diluncurkan pada acara Seminar Pengaruh Islam Terhadap Budaya Jawa, 31 Nopember 2000 )

Dari uraian selintas di bagian depan, terbayang bahwa tidak ada benturan yang berarti antara Islam dan budaya Jawa. Bahkan antara kedua belah pihak nampak saling mendukung dan saling membutuhkan. Para penyebar Islam yang umumnya dipimpin para sufi tidak punya ilmu untuk memerintah dan tidak ingin merebut pemerintahan dari tangan raja-raja Jawa.

Mereka hanya membutuhkan perlindungan ataupun bantuan dari pemerintah. Demikian pula para raja-raja Jawa sangat membutuhkan dukungan umat Islam yang sejak akhir kerajaan Majapahit telah merupakan kekuatan yang nyata. Bagi masyarakat pesantren, agama adalah nilai nomor satu dan segalanya; sebaliknya para penguasa dan pendukung sastra budaya Jawa, kedudukan dan kekuasaan politik yang nomor satu dan segalanya.

Bagi pendukung sastra budaya Kejawen yang berpusat dilingkungan kerajaan-kerajaan Jawa di Daerah pedalaman, agama adalah nomor dua. Agama apa saja tidak masalah asal bisa dimanfaatkan untuk memperkokoh kedudukan dan kekuasaan politik mereka. Maka sesudah Sultan Agung berhasil mematahkan kesultanan pesisiran yang mendapat dukungan masyarakat pesantren, segera menyadari perlunya menetapkan strategi budaya untuk menghubungkan dua lingkungan budaya. Yakni lingkungan budaya pesantren dengan sastra budaya agama yang berbahasa Arab; dan lingkungan budaya Kejawen dengan sastra budaya Jawa yang berpusat dalam lingkungan istana kerajaan-kerajaan Jawa. Strategi untuk dan membaurkan unsur-unsur Islam dalam budaya Jawa yang berpusat dalam budaya Jawa dimulai dengan mengganti perhitungan tahun Saka yang berdasar perjalanan matahari, menjadi perhitungan tahun Jawa yang berdasar perjalanan bulan, dan disesuaikan dengan perhitungan tahun Hijriyah. Mingguan Hijriyah yang terdiri dari tujuh hari, diintegrasikan dengan Mingguan Jawa yang terdiri dari lima harian, menjadi Senen Wage, Selasa Kliwon, dan seterusnya. Demikian nama bulan-bulan Jawa disesuaikan dengan nama bulan Hijriyah, menjadi Sura, Mulud, dan seterusnya. Continue reading

Advertisements