Kitab Al Hikam : 102. Allah s.w.t Ditaati Karena Sifat-sifat Ketuhanan-Nya

BARANGSIAPA BERIBADAT KEPADA ALLAH S.W.T KARENA MENGHARAPKAN SESUATU ATAU SUPAYA KETAATANNYA DAPAT MENOLAK KEDATANGAN SEKSAAN DARI ALLAH S.W.T, MAKA ORANG ITU TIDAK MENDIRIKAN KEWAJIBAN TERHADAP HAK SIFAT-SIFAT-NYA.

Ketaatan hamba kepada Allah s.w.t dibina di atas tiga dasar:
1: “Wahai Tuhan kami. KARUNIAkan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan selamatkan kami dari azab api neraka”.
2: “Ilahi! Engkau jualah maksud dan tujuan kami. Keridoan Engkau jua yang kami cari.
3: “Ilahi! Engkau jua maksud dan tujuan, tiada lain yang kami cari”.

Orang Islam umumnya membina ketaatan mereka di atas dasar yang pertama. Orang yang masih pada peringkat mencari membinanya di atas dasar yang ke dua. Orang yang telah bertemu dengan yang dicari membinanya di atas dasar yang ke tiga. Hikmat di atas mengajak golongan pertama supaya memperbaiki diri mereka dengan cara membina ketaatan separti golongan ke dua dan seterusnya mencapai peringkat golongan ke tiga.

Orang awam beribadat kepada Allah s.w.t karena mengharapkan KARUNIAan dari-Nya yang berupa nikmat kesejahteraan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat. Mereka membuat andaian bahwa jika mereka berbuat taat tentu Tuhan akan melayannya dengan lemah-lembut, memberikan kepada mereka kebaikan dan menghindarkan dari mereka bala bencana ketika mereka hidup di dunia serta menyelamatkan mereka dari api neraka di akhirat, seterusnya menempatkan mereka di dalam syurga yang abadi. Ketaatan golongan ini bermotifkan kepentingan peribadi. Rasulullah s.a.w bersabda:

Sekiranya tidak ada neraka tentu mereka tidak sujud kepada Allah s.w.t.

Jangan kamu berperangai separti hamba yang jahat, jika takut, dia bekerja. Jangan kamu menjadi separti pekerja yang jahat, jika tidak diberi upah, dia enggan membuat kerja.

Golongan kedua pula pergi kepada Islam yang lebih mendalam, dengan berbuat aslim (menyerah diri) kepada Allah s.w.t. Dalam pembentukan sifat aslim ini mereka melakukan ketaatan kepada Allah s.w.t karena mengharapkan keridoan-Nya. Inilah golongan ahli tarekat . Amal ibadat dilakukan untuk membersihkan hati nurani agar dia dapat mendekati Allah s.w.t. Rasa kasihkan Allah s.w.t telah tumbuh dalam hati mereka. Pemahaman tentang Tuhan juga telah bertambah. Mereka sudah dapat melihat bahwa penyembahan dan ketaatan adalah kewajiban hamba kepada hak ketuhanan Allah s.w.t. Pemberian atau penolakan tidak sedikit pun mengecilkan hak tersebut. Allah s.w.t disembah karena Dia adalah Tuhan. Dia ditaati karena Dia adalah Tuhan. Dia bersifat dengan sifat-sifat ketuhanan yang mewajibkan Dia disembah dan ditaati. Tidak perlu lagi kepada sebarang alasan lain. Hamba Allah s.w.t tidak ada pilihan melainkan bergantung kepada-Nya, Allah s.w.t, yang bersifat dengan sifat-sifat iftiqar, yang mewajibkan yang lain bergantung kepadanya. Dia memiliki semua kekuasaan dan kekayaan. Dia yang memberi atau menolak. Segala-galanya adalah milik-Nya dan Dia boleh berbuat apa saja terhadap apa yang menjadi milik-Nya. Hamba yang menyadari hakikat ini sangatlah berhajat kepada keridoan Allah s.w.t, yaitu Allah s.w.t menerimanya sebagai hamba yang benar-benar melakukan kewajiban terhadap hak ketuhanan-Nya. Jika Allah s.w.t rido kepadanya Dia tidak akan mengadakan tuntutan kepadanya lantaran kelemahan dan kejahilannya dalam melaksanakan kewajiban terhadap hak ketuhanan tersebut.

Orang awam beramal karena mengharapkan nikmat dari Allah s.w.t. Ahli tarekat beramal karena mengharapkan keridoan Allah s.w.t. Bila hati sudah menjadi suci bersih dan jika diizinkan Allah s.w.t, pintu hakikat dibukakan kepadanya. Bila dia berhadapan dengan hakikat, dia tidak melihat amal sebagai kebaikan yang keluar dari dirinya, tetapi dia melihat amal itu adalah anugerah Allah s.w.t kepadanya. Jika Allah s.w.t yang mengurniakan amal, mengapa pula ada tuntutan terhadap amal itu. Pengalaman hakikat yang lebih mendalam membawa seseorang kepada suasana fana. Dalam fana amal dan KARUNIA tidak terlihat lagi. Keridoan Allah s.w.t juga tidak kelihatan. Mata hati hanya tertuju kepada Allah s.w.t. Allah s.w.t meliputi segala sesuatu. Dia meliputi keridoan-Nya, KARUNIA-Nya dan perbuatan-Nya. Walau ke mana pandangan dihalakan di sana kelihatan Allah s.w.t, tidak ada yang selain-Nya. Allah s.w.t berfirman:

Maka ke mana saja kamu arahkan diri (ke kiblat untuk menghadap Allah) maka di situlah arah yang diridoi Allah; ( Ayat 115 : Surah al-Baqarah )

Dan Ia tetap bersama-sama kamu di mana saja kamu berada. ( Ayat 4 : Surah al-Hadiid )

Ahli hakikat tidak melihat kepada dirinya, amalnya, KARUNIA Allah s.w.t dan keridoan-Nya. Mereka melihat hikmat kebijaksanaan Allah s.w.t dalam menjalankan takdir-takdir, termasuklah dirinya, amalnya, KARUNIA-Nya dan keridoan-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s