HUJATAN TERHADAP HADITS NABI

Hadits dan riwayat kehidupan nabi yang notabene sebagai sumber hukum kedua dalam Islam setelah Al Quran tidak luput juga dari hujatan Dr. Robert Morey. Hadist didistorsi dan dimanipulasi agar umat Islam ragu menggunakan wasiat kedua dari Nabinya.

Dr. Robert Morey melihat hadits layaknya sebuah buku karangan Nabi Muhammad, sehingga menyayangkan bahwa dalam hadits tidak ada selayang pandang dari penulisnya, yaitu Nabi Saw.

Mengambil kesimpulan yang melenceng dari pernyataan para tokoh muslim tentang hadits. Seperti ungkapan penulis muslim Hammudullah Abdallah dalam Islam In Focus, yang dinukil Robert Morey sebagai berikut : “Semua pasal-pasal tentang iman…didasarkan pada, atau diturunkan dari ajaran-ajaran AI-qur’an dan Tradisi (Hadits) nabi Muhammad” (hal. 21). Berdasarkan pernyataan di atas ia menyimpulkan: “Jadi tidaklah mengherankan kalau bahan dalam Hadits dianggap oleh umat Muslim ortodoks setara kedudukan dan inspirasinya dengan Alqur’an”.22 Dalam hal ini ia menyimpulkan bahwa al-Qur’an dan hadits memiliki kedudukan yang sama.

· Dalam sorotannya tentang hadits Robert Morey hanya menggunakan kitab sahih Bukhari saja. Katanya mengikuti pendapat Dr. Muhammad Muhsin Khan yang menerjemahkan hadits sahih bukhari -satu lagi kesimpulan yang aneh-. Namun ia setuju pendapat Dr. Muh. Muhsin Khan bahwa hadits adalah inspirasi kedua -sudah berlawanan dengan pendapat sebelumnya-.

· Dalam upaya menyudutkan Hadits, Robert Morey berusaha memanipulasi makna dari hadits-hadits yang ingin dibenturkan dengan sensitifitas masyarakat modern seperti masalah rasial dan hal-hal yang dianggap jijik. Oleh sebab itu hadits yang mencerminkan kehidupan pada 14 abad yang lalu dibaca dengan kaca mata modern. Masalah-masalah yang disorot adalah : 1. Perbudakan, 2. Masalah warna kulit, 3. Kehidupan pribadi Rasulullah, 4. Rasul penutup kenabian, 5. Mukjizat Rasulullah, 6. Jihad dalam ajaran Islam. 7. Masalah thaharah (kebersihan).

Kitab hadits yang dijadikan rujukan hanya kitab al-Bukhari saja, sementara kitab hadits yang lainnya ditinggalkan. Dalam mempelajari ajaran Islam jika hanya berdasarkan satu kitab hadits saja tentu saja tidak bisa diterima. Sebab untuk mendapatkan keakuratan sebuah hadits harus dikomparasikan dengan hadits-hadits lain yang senada untuk kemudian dinilai oleh al-Qur’an, apakah bertentangan atau tidak. Dari sisi ini saja sebetulnya pembahasan Dr. Robert Morey tidak layak secara keilmuan. Oleh sebab itu sebelum melangkah lebih jauh dalam bab Hadits ini, ada baiknya kami ketengahkan sekilas tentang hadits.

Sekilas tentang Hadits

Ahli hadits mendefinisikan “Hadits” sebagai : “segala yang bersumber dari Rasulullah Saw dari perkataan, perbuatan, penetapan, sifat fisik dan akhlaq, juga berita tentang beliau sebelum kenabian tapi masih berhubungan dengan masalah kenabian. Definisi serupa datang dari kalangan ahli fiqih dan usul Fiqh hanya mereka menambahkan “selain al-Qur’an.”23 Hadits adalah sumber ajaran Islam kedua setelah al­Qur’an, karena Hadits selain menerangkan makna dan maksud dari ayat-ayat al-Qur’an juga mencerminkan sikap praktis Rasulullah Saw dalam mengajarkan dan mengamalkan ajaran­ajaran al-Qur’an. Apalagi ada beberapa hadits seperti hadits Qudsy yang bersumber dari Allah Swt. hanya saja lafadznya dari Rasulullah -tidak termasuk al-Qur’an-.

Dalam menyikapi perkataan Rasulullah para sahabat membedakan mana yang merupakan ajaran dan mana yang sekedar pemikiran Rasulullah khususnya dalam masalah duniawi. Sehingga sahabat tidak segan-segan bertanya, apakah perkataan Rasulullah tersebut berdasarkan wahyu ataukah pemikiran beliau sendiri. Sebagaimana yang pernah diriwayatkan oleh Al-Hakim, ketika Rasulullah memilih suatu lokasi -yang jauh dari air- untuk bermarkas dalam peperangan Badr, sahabatnya `Al-Khubbab ibn Al-Mundzir” bertanya, “Wahai pesuruh Allah, apakah pilihanmu ini berdasarkan wahyu, ataukah berdasarkan pendapat-(mu)?”. Rasulullah menjawab: “(ini) berdasarkan nalar wahai Khubbab”. Khubbab tidak setuju dengan pemilihan tempat itu dan menyarankan penggunaan tempat lain yang akhirnya disetujui oleh Rasulullah..

Sepeninggal Rasulullah perikehidupannya yang diceritakan turun-temurun -yang kemudian dikenal sebagai hadits- dibukukan dengan seleksi yang sangat ketat. Penulisan pertama tentang hadits dimulai secara resmi pada masa Umar bin Abdul Aziz, ketika memerintahkan gubernurnya di Madinah Abu bakar bin Muhammad bin Hazm dan seorang ulama Syam dan Madinah yaitu Ibn Syihab az-Zuhri untuk menulis hadits­hadits Rasulullah, th. 99 H. Jika dilihat dari tenggang waktu maka penulis pertama tersebut termasuk tabi’in, tangan kedua yang mendapatkan ajaran Rasulullah dari tangan pertama. Adapun pengumpul hadits yang datang setelahnya dan kemudian karyanya menjadi rujukan hingga hari ini, mereka-mereka adalah: Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasai, Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Imam Abu Daud; Walaupun mereka bukan tangan pertama tapi dalam pengumpulannya menggunakan seleksi yang amat sangat ketat. Parameter utama dalam penerimaan hadits adalah cara periwayatannya, apakah hadits itu disampaikan oleh orang yang memiliki kredibilitas diakui atau tidak, selain parameter lain tentang matan (materi) apakah bertentangan dengan al-Qur’an atau tidak dan lain sebagainya seperti yang dipakai oleh masing-masing perawi (periwayat). Dari sinilah kita mengenal ilmu al jarh wa at-ta’dil sebagai upaya seleksi atas periwayat hadits. Dan haditspun akhirnya memiliki. tingkatan berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh para ulama hadits dengan patokan utama seperti kami sebutkan tadi.

Dengan upaya seleksi tersebut akhirnya umat Islam dapat memilah-milah mana hadits yang sengaja dihembuskan oleh orang-orang semacam Dr. Robert Morey -yang memang sejak dulu sudah ada- yang hadits-hadits palsu mereka dikenal dengan istilah israiliyat dan mana hadits yang memang bersumber dari Rasulullah.

Tuduhan adanya dilema pemakaian hadits (urin onta).

Dalam masalah hadits, Robert Morey menyatakan:

“Kenapa kami merasa perlu terlibat sedemikian jauh membuktikan bahwa pemuka Islam tertinggi telah beranggapan bahwa Hadits itu adalah hasil pengilhaman dan punya otoritas ilahi? Tidak lain karena umat Muslim terkadang akan menolak Hadits itu sendiri manakala mereka dihadapkan dengan beberapa ajaran Muhammad yang jelas tidak masuk akal yang terdapat dalam hadits”.24

Demikian pandangan Robert Morey tentang keberadaan hadits dikalangan Muslim. Untuk mendukung pendapatnya tersebut ia mengutarakan sebuah dialog perihal urin onta yang menurutnya dianjurkan oleh Rasulullah layaknya iklan Coca Cola. Dengan harapan bahwa sesnsitivitas modern akan menolak hal-hal yang bersifat menjijikkan, sehingga umat muslim dianggap mengalami dilema untuk menerima hadits tersebut.

Sayangnya Robert Morey tidak berani menyebutkan matan (materi) haditsnya, apalagi mengkomparasikan dengan riwayat-riwayat lain yang mengungkap masalah senada. Dan seperti yang kita kemukakan tadi, Dr. Robert Morey menyatakan hanya mengambil dari kitab hadits Imam Bukhari saja, tentu saja cara pengkajian hadits semacam ini sangat parsial dan tidak layak dalam dunia keilmuan Islam. Maka kami mencoba memakai kitab Hadits Imam Bukhari dalam menjawab masalah ini dan mengkomparasikan dengan riwayat dari perawi lain. Berikut ini kami ketengahkan salah satu dari 13 hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari menyangkut masalah ini yaitu:

Berkata kepada kami Muslim bin Ibrahim, berkata kepada kami Sallam bin Miskin, berkata kepada kami Tsabit dari Anas bahwa sekelompok orang yang terkena penyakit berkata: “Wahai Rasulullah lindungilah karni dan berilah kami makan “. Ketika mereka sudah sehat mereka berkata : “Cuaca kota Madinah tidak cocok “, maka Rasulullah mempersilahkan mereka ke tempat onta (yang berurnur antara 3-10 th) milik Rasulullah dan berkata kepada mereka : “Minumlah air susunya”. Setelah sehat mereka membunuh penggembala (ternak) Nabi Saw. dan mengambil onta tersebut. Maka Rasulullah mengutus (beberapa orang) untuk mencari mereka, maka (setelah keternu) tangan dan kaki mereka dipotong dan mata rnereka ditusuk. Maka saya (Anas) melihat salah satu dari mereka merayap ditanah hingga mati.

(HR. Bukhari).25

Dalam hadits di atas kita dapatkan bahwa Rasulullah tidak menganjurkan orang-orang yang datang meminta obat agar meminum urin onta, tapi Rasulullah menyarankan meminum air susu onta.

Dalam masalah ini, Imam Bukhari memunculkan 13 hadits: dalam bab zakat 1 hadits, bab al jihad wa as-sair 1 hadits, bab al-maghazi 2 hadits, bab tafsir al-Qur’an 1 hadits, bab al­wudlu 1 hadits, bab at-thibb 2 hadits, bab al-hudud 4 hadits, bab ad-diyat 1 hadits. Dari hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari yang berkaitan dengan masalah ini riwayat yang paling bisa diterima adalah riwayat di atas sedang riwayat lain yang menyebutkan bahwa Rasulullah menyarankan agar mereka meminum air susu dan urin onta -untuk obat-, terdapat nama ­nama perawi yang oleh para ahli hadits dianggap tidak kredibel, seperti nama Abu Qilabah yang dinilai suka menambah-nambah cerita (katsir al-Irsal), juga Wuhaib yang dinilai berubah pada masa tuanya, serta Sa’id yang dinilai suka mencampur aduk riwayat dan memanipulasi (yudlis).

Katakanlah riwayat-riwayat lain memiliki kebenaran, bahwa Rasulullah menyarankan orang-orang yang datang meminta obat agar meminum susu dan urin dari satu dzaud (onta yang berumur 3-10 tahun). Maka saran Rasulullah tersebut sebatas sebagai obat, sebab kalau hanya dari air susunya saja tentu tidak mencukupi untuk kebutuhan 8 orang (berdasarkan riwayat lain jumlah mereka 8 dari Urainah dan ‘Ukl), apalagi jenis ontanya hanya yang berumur 3-10 tahun. Dan yang perlu kita perhatikan bahwa saran tersebut untuk kejadian 14 abad yang lalu dalam komunitas yang hidup di gurun pasir, dan tentu saja tidak ada apotik dan toko obat seperti sekarang. Tentang hukum pemakaiannya, sebagian ulama membolehkan penggunaan obat dari urin “binatang yang dapat dimakan”, sementara yang lain tidak membolehkan seperti kata Ibnu Mas’ud:

Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian dari apa-apa yang diharamkan atas kalian.

dengan alasan yang sama para ulama melarang pemakaian urin manusia sebagai obat.

Berdasarkan sejumlah artefak dan tulisan kuno, didapatkan bahwa terapi urin sudah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. India mengenalnya sejak _+ 5000 th. lalu, hal diperkuat dengan adanya kitab Darma Tantra yang memuat keterangan cara meminum urin untuk menyegarkan tubuh. Eropa sendiri hingga kini masih menerapkan terapi ini, begitu juga Tiongkok yang mengenal sejak 1700 th. silam. Pada masa sekarang pun banyak negara maju yang mengelola air kencing untuk diekstrak menjadi obat. Amerika serikat -tempat tinggal Robert Morey- sendiri hingga kini, menjadikan air kencing manusia sebagai bahan obat, seperti yang ditulis oleh majalah Wanita Indonesia. Di Amerika Serikat kini sudah lazim di setiap toilet umum yang dikelola pemerintah dan berlokasi di dekat restoran atau hotel, dilengkapi oleh drum dan alat penyaring. Dari situ, urin dialirkan ke laboratorium kecil. Setelah proses pengujian, dihasilkanlah ekstrak yang disebut urikonase untuk diteruskan ke pabrik obat atau kosmetik. Pada 1970, keuntungan yang didapat dari pengelolaan WC umum sekitar USD 600 per hari, atau USD 10,4 juta setahun. Artinya, ekstrak air seni yang telah diolah menjadi obat kosmetik ternyata banyak diminati.26

Jika dibandingkan dengan beberapa ayat Bible (mungkin ayat buatan), maka masalah urin onta tidaklah lebih jorok dari apa yang tertulis di Bible Kitab Yehezkiel 4: 12-15 seperti berikut:

4:12 Makanlah roti itu seperti roti jelai yang bundar dan engkau harus membakarnya di atas kotoran manusia yang sudah kering di hadapan mereka. ”

4:13 Selanjutnya TUHAN berfirman: ‘Aku akan membuang orang Israel ke tengah-tengah bangsa-bangsa dan demikianlah mereka akan memakan rotinya najis di sana. ”

4:14 Maka kujawab: ‘Aduh, Tuhan ALLAH, sesungguhnya, aku tak pernah dinajiskan dan dari masa mudaku sampai sekarang tak pernah kumakan bangkai atau sisa mangsa binatang buas; lagipula tak pernah masuk ke mulutku ini daging yang sudah basi. ”

4:15 Lalu firman-Nya kepadaku: “Lihat, kalau begitu Aku mengizinkan engkau memakai kotoran lembu ganti kotoran manusia dan bakarlah rotimu di atasnya. ”

Jika Robert Morey mempercayai kebenaran ayat Bible di atas maka harus menerimanya sebagai ajaran? namun jika tidak maka semestinya ia mengoreksi ajaran Bible yang tidak masuk akal.

Sedikit tambahan, hadits tentang urin onta di atas, yang juga menceritakan hukuman yang diterima oleh para penjarah, dipergunakan oleh Robert Morey untuk menyudutkan Rasulullah dan ajarannya, dengan mengatakan:

Dosa-dosa Muhammad termasuk menyiksa orang­orang dengan memotong tangan-tangan dan kaki­kaki mereka dan mencongkel mata mereka dengan besi panas (Hadits I/234J; membiarkan mereka mati kehabisan darah setelah anggota badannya dipotong (Hadits VIII/794, 795); membiarkan orang mati kehausan (Hadits VIII/796).

Riwayat lain yang dikeluarkan Imam Bukhari dalam kitab (bab) at-thibb (pengobatan), menyebutkan bahwa kejadian tersebut sebelum turunnya ayat-ayat hudud (hukuman­hukuman), berdasarkan keterangan dari Muh. Ibnu Sirin. Sedang Imam Muslim untuk masalah yang sama menyebutkan penuturan Anas tentang kenapa mereka ditusuk matanya, hal itu karena mereka menusuk mata penggembala yang mereka bunuh.

Robert Morey sengaja menutupi bahwa perlakuan di atas dilakukan oleh para pengejar di tempat di mana mereka ditemukan -tentunya dipadang pasir-. Dan hal itu terjadi sebelum turunnya ayat-ayat yang mengatur masalah hukuman, sehingga aturan yang dipakai para pengejar adalah aturan masyarakat Arab pada masa itu. Perlu diingat bahwa itu kejadian pada Abad ke 7 M. dimana sistem hukum yang diterapkan oleh Rasulullah pun saat itu belum memadai. Jika dibandingkan dengan dunia Kristen maka apa yang dilakukan oleh umat muslim saat itu adalah tidak seberapa. Apa yang dialami para perampok tersebut adalah akibat dari tindak kriminalitas perampokan yang disertai pembunuhan. Sementara dalam dunia kristen para penyeru tauhid mendapatkan perlakuan yang lebih keji dari hukuman pelaku kriminal. Coba tanyakan, hukuman apa yang diterima Iranius (130-200M), Arius (250-350 M), Michael Servestus (1511-1553) dan banyak lagi yang lainnya. Hukuman keji yang mereka terima bukan karena kriminalitas tapi karena menyatakan bahwa Tuhan itu Esa/Tunggal. Bagaimana dengan Inquisisi? Berapa korbannya?

Perbudakan

Dalam masalah ini, Robert Morey memandang bahwa :

Islam mengajarkan perbudakan hingga hari ini, ia bahkan menyebutnya sebagai Jihad Perbudakan.

Bahwa budak-budak yang ada pada masa Rasulullah adalah dari bangsa kulit hitam saja.

Bahwa perbudakan atas bangsa kulit hitam hanya di negara Islam saja.

Oleh sebab itu maka kami akan membahas masalah perbudakan ini agak panjang lebar.

Pada masa Nabi Ibrahim perkawinan dengan seseorang di luar komunitas masyarakatnya dianggap mengawini budak. Itulah sebabnya maka Siti Hajar yang merupakan hadiah dari Raja Mesir -atas prestasi Nabi Ibrahim dalam membantu raja- di sebut ‘budak’.27 Pada masa Nabi Muhammad Saw -khususnya dalam masyarakat Arab- adat seperti di atas sudah tidak ada. Perbudakan biasanya terjadi gara-gara peperangan yang mengakibatkan adanya tawanan. Tawanan inilah -Arab dan non­Arab- yang kemudian menjadi budak dan dijual di pasar Budak.

Sebagaimana yang terjadi pada diri Zaid bin Haritsah, ketika umur 10 th. ia diajak oleh ibunya untuk mengungjungi sanak saudaranya dari Bani Mu’in bin Thoi’, ketika terjadi kekacauan ia ditemukan oleh rombongan bani al-Qoin bin Jasr dan ia dijual di pasar budak, dan Hakim bin Jazam lah yang membelinya -ia keluarga dari Khadijah istri Muhammad-. Maka ketika Khadijah mengunjungi Hakim, Zaid diajak pulang,

kemudian diberikan kepada Muhammad (sebelum kenabian). Saat berada ditangan Muhammad Zaid dibebaskan dan diberi tawaran apakah kembali ke orang tua ataukah tetap berada bersama Muhammad dan Istrinya, dan ternyata Zaid ingin tetap tinggal, hingga ia diangkat anak oleh Rasulullah dan diumumkan dihadapan khalayak Quraisy, dan namanya berubah menjadi Zaid bin Muhammad.28

Dan sudah maklum dalam sejarah bahwa bangsa Arab kala itu adalah masyarakat pedagang. Secara geografis mereka berada di antara dua imperium yang selalu bertikai, daerah mereka juga menjadi arus utama perdagangan antara dua imperium tersebut. Budak yang ada pada masa nabi, adalah akibat peperangan dua imperium Persia dan Romawi timur-Kristen. Maka tidak benar jika dikatakan bahwa budak yang ada saat itu semuanya dari bangsa kulit hitam, dalam kasus Zaid di atas malah berasal dari bangsa Arab sendiri.

Membaca sejarah Islam, apalagi pada masa-masa awal, tidak sepantasnya dibaca dengan kaca mata modern. Perbudakan dengan -makna tradisional- yang pernah ada di dalam masyarakat Arab pada 14 abad yang lalu, mendapat perhatian yang serius dalam upaya penghapusannya. Itulah sebabnya maka strategi dakwah yang diterapkan oleh Rasulullah sangat cerdik dan jenius. Riwayat dari Aisyah berikut ini akan memberi gambaran bagaimana strategi pentahapan dakwah syariat Islam.

…Sesungguhnya yang mula-mula diturunkan dari Qur’an adalah surat yang termasuk detail di dalamnya memuat kabar tentang Surga dan Neraka, maka ketika manusia condong kepada Islam maka turunlah (ayat-ayat yang menerangkan) halal dan haram, kalau yang turun pertamakali ‘ jangan engkau meminum khamr (minuman keras) “maka mereka akan mengatakan kami tidak akan meninggalkan khamr selamanya, kalau yang turun ‘ janganlah engkau berzina” maka mereka akan mengatakan kami tidak akan meninggalkan zina selamanya………..(HR. Bukhari).29

Karena perbudakan saat itu sudah melembaga dalam masyarakat Arab, maka penanganannya pun tidak bisa secara serta merta, maka diterapkan pentahapan seperti dalam hadis di atas. Cara yang dipakai oleh Rasulullah sangat halus, seperti berikut:

Pada tahap pertama pemerdekaan budak menjadi perbuatan yang sangat dianjurkan. Beberapa cara yang ditempuh dalam rangka memuluskan anjuran ini antara lain :

Pemerdekaan budak dijadikan tebusan dari suatu kesalahan. Banyak sekali ayat al-Qur’an dan hadits-hadits yang dijadikan dasar hukum Islam menyebutkan “pemerdekaan budak” sebagai tebusan atas dosa tertentu yang dilakukan seorang muslim -seperti hubungan badan suami istri pada waktu puasa wajib-

Rasulullah juga menciptakan suatu “tradisi pemerdekaan budak” bertepatan dengan kemunculan gerhana, setiap ada gerhana maka akan banyak budak yang terbebaskan, seperti hadits berikut ini:

Dari Asma’ binti Abi Bakr radhallahu ‘anhuma, mengatakan: “Pada saat terjadi gerhana kami diperintahkan untuk memerdekakan (budak) “. (HR. Bukhari). 30

Segala aturan yang berkenaan dengan budak diarahkan pada upaya pembebasan, hadits menceritakan sebagai berikut :

Dari Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma, mengatakan: berkata Rasulullah Saw. : “Barang siapa memerdekakan (melepaskan) hak kepemilikannya atas seorang budak (yang dirniliki beberapa orang), jika ia memiliki harta melebihi harga budak tersebut, maka nilai budak itu akan diselesaikan secara adil, para pemilik lainnya akan diberi haknya dan si budak akan dibebaskan; namun jika tidak, maka budak itu akan terbebaskan dengan sebagian harga pembebasan (yang mampu dilakukan oleh pembebas-pen) (HR. Bukhari).31

Jika tidak memiliki harta, tapi ingin memerdekakan budak dengan melepaskan haknya, maka budak tersebut tidak boleh diperkerjakan dengan pekerjaan yang berat (lihat Bukhari, III/162).

Ketika tahap awal dapat diterima oleh umat, maka tahap kedua adalah tahap menanamkan pemahaman tentang adanya kewajiban antara kedua belah pihak, dengan membawa keduanya kearah ketakwaan kepada Allah.

Hal-hal di atas diperkuat dengan anjuran untuk mendidik dan mengajari budak, bahkan anjuran untuk menikahinya. Satu langkah yang tidak pernah dilakukan masyarakat Eropa-Amerika pada masa perbudakan. Jangankan mengajari, mereka bahkan melarang para budak untuk belajar membaca. Mari kita perhatikan hadits berikut ini :

..Dari Abu Burdah dari ayahnya mengatakan, berkata Rasulullah Saw. : “Tiga (macam orang) mereka mendapat dua pahala, seseorang dari ahli kitab yang beriman kepada Nabinya dan beriman kepada Muhammad Saw., dan hamba sahaya jika menjalankan hak-hak Allah dan hak-hak tuannya, serta seseorang yang memiliki hamba sahaya wanita yang kemudian dididiknya dengan baik serta diajarinya dengan baik kemudian dibebaskan dan dinikahi maka ia mendapatdua pahala,….’: (HR. Bukhari).32

Anjuran ini disertai contoh oleh Rasulullah dengan menikahkan bekas budaknya yang telah dimerdekakan yaitu Zaid untuk dinikahkan dengan keluarga nabi dari kalangan terpandang yaitu Zainab binti Jakhsy. Sebelum dinikahkan Zaid telah dijadikan anak angkat oleh Rasulullah. Tidakkah ini suri tauladan yang nyata?.

Seperti tergambar dalam hadits di atas, pemilik budak berkewajiban mendidik dan mengajari, dan si budak hendaknya menjalankan kewajibannya untuk memenuhl hak-hak tuannya. Dengan begitu rasa keadilan dapat terpenuhi dikedua belah pihak, hingga memudahkan langkah-langkah selanjutnya, kearah satu target yang hampir mustahil dapat dilakukan oleh orang lain.

Upaya ini disertai dengan mengubah panggilan dari masing-masing pihak atas lainnya, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah berikut ini :

‘Janganlah seseorang diantara kamu mengatakan: Berilah makan pemilikmu, berilah minum pemilikmu; hendaknya ia mengatakan: Tuanku Majikanku. Dan janganlah seorang di antara kamu mengatakan: budakku, budak perempuanku; hendaknya ia mengatakan: fataya (pemudaku), fataty (pemudiku), ghulamy (ketiga kata ini merujuk pada makna “anak”-pen).”(HR. Bukhari).33

Pada tahap selanjutnya Rasulullah mulai menerapkan persaudaraan yang sebenarnya antara budak dan tuannya. Seperti dalam hadits berikut ini :

Dari Abu Bakar as-Siddiq Ra. Berkata Rasulullah : “Tidak akan masuk surga seorang yang buruk karakternya”, maka seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah bukankah engkau mengabarkan kepada kami bahwa kebanyakan umat ini adalah para budak dan anak-anak yatirn?”. Rasulullah menjawab: “Benar, maka mulyakanlah mereka seperti engkau memulyakan anak-anak kalian, dan berilah mereka makan dari apa yang kalian makan “, mereka berkata : Apa yang bermanfaat bagi kami di dunia ini wahai Rasulullah?”, Rasulullah menjawab : “Kuda yang baik yang engkau ikat dan dengannya engkau berperang di jalan Allah, dan seorang hamba yang mengurusimu tapi jika ia sholat maka dia adalah saudaramu, jika dia rnenjalankan shalat maka dia adalah saudaramu”. (HR. Imam Ahmad).

Rasulullah sampai mengulang dua kali dalam nasehatnya demi mengukuhkan adanya persaudaraan antara tuan dan budaknya. Berhasilkah Rasulullah menerapkan strateginya? Riwayat dibawah ini akan menggambarkan bagaimana Rasulullah mampu menumbuhkan persaudaraan itu dikalangan sahabatnya:

…dari Jabir bin Abdillah Ra. berkata : Umar pernah mengatakan :

Abu Bakaradalah tuan kita, dan telah memerdekakan tuan kita “. yaitu Bilal.34

Bilal yang sebelumnya adalah hamba sahaya asal Habasyah Etiopia berkulit hitam. Setelah masuk Islam bukan saja dimerdekakan tapi juga dihormati sampai Umar menyebutnya tuan. Nama Bilal yang sering mengumandangkan adzan pada masa Rasulullah kini diabadikan namanya oleh umat Islam – khususnya di Indonesia-, kita menyebut orang yang mengumandangkan adzan sebagai bilal. Siapapun yang adzan kita sebut demikian tanpa melihat dia kulit putih atau merah sekalipun.

Manusia manapun tidak ada yang rela kehilangan hak­hak azazinya sebagai manusia. Oleh sebab itu kemerdekaan adalah harapan semua orang. Islam sebagai agama yang sesuai fitrah manusia tentu saja tidak menghendaki adanya praktek perbudakan. Tidak adanya pelarangan perbudakan dalam teks al-Qur’an maupun hadits bukan berarti Islam menyetujui praktek tersebut apalagi menganju’rkan. Strategi yang dipakai oleh Rasulullah dalam merubah praktek-praktek sosial yang menyimpang selalu memakai pentahapan, termasuk dalam menghilangkan praktek perbudakan. Apalagi bahwa praktek perbudakan merupakan penyakit masyarakat yang sangat sulit dihilangkan. Kalaupun upaya Rasulullah tersebut tidak berhasil menghapus perbudakan sekaligus pada masa hidupnya, namun benih persaudaraan yang ditanamkan olehnya, akhirnya menjadl pohon dan membuahkan hasil.

Kita bisa membandingkannya dengan upaya masyarakat barat dalam masalah ini. Masyarakat barat baru dapat meninggalkan praktek tersebut pada abad ke 17-18. Namun Yang agak lucu, ketika masyarakat Eropa mulai meninggalkan praktek, tersebut karena sudah tidak lagi dianggap sebagai tulang punggung perekonomian, Amerika justru memulai praktek perbudakan tersebut, demi kepentingan ekonomi, untuk mengerjakan perkebunan kapas. Amerika yang pada tahap selanjutnya ingin menghapuskan praktek yang sudah ditinggalkan oleh masyarakat lain, berupaya menghapuskannya secara formal melalui undang-undang yang dipelopori Presiden Abraham Lincoln pada th. 1860, dengan resiko perang saudara.35 Itupun tidak bisa tuntas, sebab sikap rasisme tetap ada walaupun praktek perbudakan telah dihapuskan oleh undang-undang. Penanganan secara frontal jelas mengandung resiko besar baik pada saat pelaksanaan maupun setelahnya. Bahkan dapat menimbulkan masalah baru yaitu adanya dinding antara dua ras yang sebelumnya berinteraksi secara tidak adil, satu menguasai dan yang lain dikuasai. Dinding inilah yang dinamakan “rasisme” baik dari pihak yang pernah dikuasai maupun yang pernah menguasai. Keduanya sulit bertemu kecuali dalam film dan formalitas, namun di luar itu praktek rasisme masih ada. Tahun 1999 Amerika pernah digegerkan oleh praktek rasisme dalam angkatan udara Amerika.

Sikap rasisme akibat perbudakan dan penjajahan oleh bangsa Eropa (kulit putih) atas bangsa Afrika (kulit hitam) masih terasa kental di negara-negara Afrika. Politik apartheit yang telah menempatkan warga kulit hitam menjadi warga negara kelas dua di negaranya sendiri, masih terasa hangat bekas-bekasnya. Perjuangan pemilik negeri untuk mendapatkan hak-haknya mungkin sudah diperoleh secara formal dengan diwakili oleh Nelson Mandella di Afrika selatan, namun perlakuan atas mereka tidaklah mendapatkan hak yang sama 100% dengan penguasa sebelumnya, sebab sisa-sisa perbuatan rezim apartheit masih bercokol di beberapa negara Afrika. Ambillah contoh Namibia – menurut wartawan Jawa Pos Adang D. Bokin saat meliput negara tersebut- merupakan salah satu “potret negara baru yang bercitra modern” -meminjam kata-katanya-. Namun dibalik kemajuan ltu masih tersisa bibit konflik rasial akibat politik apartheit yang pernah diberlakukan di negara ini. Hal itu setidaknya ditandai dengan penataan pemukiman di kota Windhoek yang disekat berdasarkan warna kulit; putih, hitam, dan komunitas campuran hitam dan putih yang tidak diterima baik dikalangan putih maupun hitam.36

Sisa-sisa peninggalan perbudakan bangsa barat terhadap bangsa Afrika masih terlihat jelas di depan mata, baunya masih menyengat hidung, rintihan kepedihan mereka masih terngiang di telinga; tapi yang mengherankan kok tiba-tiba ada seorang Doktor Amerika dengan bangga menunjuk orang lain (umat Muslim khususnya bangsa Arab) sebagai umat yang hanya memperbudak bangsa kulit hitam, lebih parah lagi hal itu dialamatkan kepada ajaran Nabi Muhammad, apa ya enggak ngaca? Hingga saat ini rasanya tidak pernah ada penataan kota dengan sekat, bangsa Afrika, bangsa Arab, dan campuran keduanya!?

Cara-cara barat sangatlah berbeda dengan apa yang dilakukan dan diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau langsung membidik pusatnya, yaitu hati nurani manusia. Mekanisme yang dipergunakan adalah persaudaraan. Maka ketika persaudaraan terwujud perbudakan hilang dengan sendirinya, bahkan tanpa efek sampingan berbentuk penyakit rasisme. Dan “persaudaraan” aman dikonsumsi oleh siapapun, apalagi “persaudaraan atas nama Allah”.

Rasulullah tidak punya budak

Tuduhan Robert Morey bahwa Rasulullah memiliki budak adalah tidak berdasar, sebab budak yang sampai ketangan Rasulullah semuanya sudah beliau bebaskan. Zaid bin Haritsah yang disebut maula Rasulillah telah dibebaskan oleh Rasulullah ketika ia masih kecil dan Muhammad Saw. belum diangkat menjadi Nabi. Kata maula seringkali diterjemahkan sebagai budak, padahal kata maula bermakna perwalian atau hak perlindungan. Mencari perlindungan dengan jalan intisab (mengikuti nasab orang lain yang memiliki kedudukan kuat) adalah hal yang biasa terjadi di masyarakat yang hidup dipadang gurun yang tandus. Kehidupan keras menghendaki seseorang mencari perlindungan kepada yang kuat. Itulah sebabnya Zaid yang sebelumnya adalah anak merdeka ketika ditemukan kabilah lain ia dijual di pasar budak, setelah Rasulullah membebaskan dan Zaid memilih tetap bersama Rasul, maka Muhammad Saw. segera mengumumkan dihadapan khalayak Makkah bahwa Zaid menjadi anak angkatnya, dan dipanggil Zaid bin Muhammad. Hak perwalian ini ketika disalahgunakan (dijual) maka dilarang oleh Rasulullah, sebab akan mengarah pada perbudakan jenis baru. Kelak dari para maula ini muncul tokoh-tokoh keilmuan dan bahkan mereka membentuk suatu dinasti pemerintahan dalam sejarah Islam.

Warna kulit dan tuduhan rasisme

Hadits-hadits yang menyebutkan perihal fisik Nabi Muhammad seperti berkulit putih sengaja dimaknai sebagai pengunggulan ras kulit putih, juga hadits Nabi yang menyebutkan ciri-ciri Nabi Isa As. Padahal keduanya berasal dari Jazirah Arab Kuno, keturunan Semit, tentunya bukan keturunan Eropa. Robert M. memahamkan kepada pembacanya seperti pandangan orang Barat yang belum bisa bersikap menerima terhadap warna kulit, maka penyebutan warna kulit secara fisik dipahami sebagai warna kulit yang berarti ras. Dengan cara pandang Dr. Robert Morey ini maka iklan alat-alat kecantikan sepem bedak atau lulur pemutih jangan jangan dimaknai sebagai upaya rasial yang membedakan antara warna kulit hitam dan putih. Bahasan tentang masalah ras berikut ini sekaligus menjawab tuduhan senada dalam bab-bab lain selain bab Hadits.

Dalam masalah ras, baik al-Qur’an maupun Hadits tidak pernah membedakan antara manusia, baik suku, bahasa, maupun warna kulit. Tinggi rendah derajat seorang muslim hanya ditentukan oleh ketakwaannya kepada Allah Swt. dan itu hanya diketahui oleh Allah saja. Sehingga seorang tokoh agama belum tentu lebih tinggi derajatnya dari seorang pengemis. Apalagi masalah ras hitam dan putih, kata-kata ini sudah hilang dalam perbendaharaan bahasa umat Islam dari negara manapun. Kata-kata tersebut hanya dipakai ketika membaca koran, atau mendengar berita tentang sikap rasial dari suatu ras yang merasa unggul terhadap ras lainnya. Sedang dalam komunikasi antar sesama muslim hal tersebut nyaris tidak pernah terdengar. Kalau saja tidak ada berita-berita baik dari koran maupun tv kata-kata tersebut mungkin sudah dihapus dari kamus.

Al-Qur’an menyatakan dengan tegas seperti berikut (artinya) :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS: al-Hujurat 13).

Sedangkan Rasulullah Saw. dengan sangat tegas mengumumkan dalam pidatonya sebagai berikut :

…khutbah Rasulullah Saw. pada pertengahan hari-hari tasyriq mengatakan : “Wahai umat manusia, ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu, dan sesungguhnya bapak kalian adalah satu, perhatikanlah tidak ada keunggulan bagi ras Arab atas non-Arab, tidak juga bagi non-Arab atas Arab, tidak juga bagi ras (kulit) Merah atas (kulit) hitam, tidak juga bagi (kulit) hitam atas (kulit) merah kecuali berdasarkan ketakwaan. Apakah sudah saya sampaikan? Mereka menjawab: “Rasulullah telah menyampaikan”……(diriwayatkan oleh Imam Ahmad) .

Semangat persamaan hak azazi manusia bukanlah deklarasi kosong, pada awal dakwahnya, Rasulullah pun telah menunjukkan perlakuan yang sama kepada para sahabatnya baik yang Arab, atau Parsi (Salman al-Farisi), maupun Etiopia (Bilal). Persamaan hak azazi manusia dalam Islam tidak diterjemahkan sebagai kebebasan individu -yang kadang menimbulkan pelanggaran atas hak orang lain- namun dipraktekkan dalam wujud persaudaraan yang dapat menembus batas-batas negara, ras, suku bangsa, bahkan status sosial; karena mereka disatukan oleh Tauhid. Al-Qur’an menyatakan hal itu dengan sangat tegas bahwa “sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara”. Penegasan yang sama telah dideklarasikan oleh Rasulullah dalam pidatonya tentang persamaan hak-hak asasi manusia, seperti pada hadits di atas.

Tuduhan Dr. Robert Morey bahwa Islam mengajarkan perbudakan dan rasisme, hanyalah sekedar untuk menutupi kebobrokan agama dan negaranya yang sangat rasis. Untuk kebaktian saja mereka masih membedakan gereja hitam dan putih kok menuduh orang lain rasis. Isu-isu rasial tidak pernah terdengar dari negara-negara muslim. Tapi sebaliknya justru dari negara-negara barat mayoritas Kristen yang paling paling fasih jika bicara soal ras dan demokrasi. Lihat saja perlakuan masyarakat Amerika terhadap penduduk asli Indian, perlakuan Australia terhadap penduduk asli Aborigin, politik apartheit di Afrika, yang lebih hangat adalah anti semit (Arab) yang dilakukan oleh negara-negara mayoritas Kristen, hal yang sama pernah mereka lakukan terhadap keturunan Sernit lain yaitu bangsa Yahudi.

NOTES

22. Robert Morey, hal 194.

23. Prof. Dr. Abu Muhammad Abdul Mahdi bin Abdil Qodir bin Abdil Hadi (Staf pengajar di Kuliah Ushuluddin Al-Azhar Cairo), Al­madkhal ila as-sunnah an-nabawiyyah, Daar al-I’tishaam, Cairo, 1999, hal. 22.

24. Robert Morey, hal 196.

25. Imam Bukhari, Shahih al-Bukhari, Daar al-Fikr, th. 1994, vol. 7, hal. 16-17.

26. Majalah Wanita Indonesia, No. 725, 15-21 September 2003, hal. 30.

27. Padahal hadiah seorang wanita dari raja kepada seseorang yang sangat dihormati karena jasanya, minimal adalah seorang putri bangsawan.

28. Sirah Ibnu Ishaq I/264, Tarikh Thobari II/215, Isti’ab II/544, dalam Bint asy-Syati’ (Tarajum Sayyidat..), hal.

29. Bukhari (VI/122-123).

30. Ibid, III/ 161

31. Ibid, III/ 161

32. Ibid, I/97.

33 Ibid, III/169.

34. Ibid, IV/261.

35. Southworth and Southworth, AMERICAN HISTORY 1492 to the Present Day, Iroquois Publishing Company, Inc. Syracuse-New Yorlc, th. 1946, hal. 178-181.

36. Jawa Pos, edisi Kamis pon 31 Juli 2003.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s