Manfaat Puasa

Mengapa puasa itu perlu ?

  • Puasa adalah terapi pengobatan alami paling tua yang tak pernah lenyap ditelan zaman
  • Mengurangi jumlah dan frekwensi makan menyebabkan liver lebih aktif dan leluasa melakukan pembersihan atau pembuangan racun (detoksifikasi) dari dalam tubuh.
  • Dengan berkurangnya racun dalam tubuh akan meningkatkan sirkulasi oksigen dan nutrisi ke seluruh sel dan jaringan tubuh sehingga sel bisa memperbaiki diri dan meningkatkan fungsinya secara optimal

Bagaimana terjadinya proses detoksifikasi selama puasa?

  • Secara fisik, puasa mengistirahatkan organ-organ yang berkaitan dengan pencernaan termasuk lambung, usus, pankreas, empedu & liver.
  • Liver adalah organ pencernaan yang aktifitas metaboliknya paling tinggi.
  • Selain berfungsi sebagai gudang penyimpanan dan distributor zat-zat makanan yang diperlukan sel-sel tubuh kita, liver juga mengendalikan keluar masuknya racun pada tubuh kita
  • Secara bertahap dengan berkurangnya kalori saat berpuasa, liver akan mengubah glikogen (cadangan energi dari karbohidrat yang disimpan oleh hati) menjadi glukosa dan energi.
  • Dengan berkurangnya jumlah glikogen karena puasa, maka tubuh akan menggunakan protein dalam otot sebagai penghasil glukosa dan energi dengan cara mengubah protein menjadi asam-asam amino lebih dulu. Asam lemak digunakan paling akhir setelah energi dari protein mulai menipis. Seperti protein, lemak juga diubah dulu menjadi keton sebelum menjadi energi yang dapat digunakan otak. Proses ini disebut ketosi.
  • Pada puasa, ketosis merupakan adaptasi tubuh untuk mencegah kekurangan protein akibat pembakaran. Pembentukan keton baru dimulai pada hari ketiga, sehingga sebagian orang merasakan pusing.
  • Untuk melakukan penghematan energi, tubuh secara reflek mempertahankan diri dengan melakukan mengurangan beban, yaitu mulai melakukan pengurasan zat-zat bersifat racun bahkan yang sudah jauh merasuk ke dalam sel-sel tubuh yang paling dalam, dan juga ampasampas metabolisme seperti timbunan lemak, sel-sel aus, jaringan yang rusak, tumor dan berbagai bentuk jaringan abnormal lainnya dengan mengaktifkan organ0organ pembuangan. Proses ini disebut otolisasi, dan biasanya mulai terjadi pada hari ketiga juga. Dalam proses ini tubuh juga akan men-stimulasi dan mempercepat pertumbuhan sel-sel baru, pada saat protein yang diperlukan disintesa ulang (recycle) dari sel-sel yang sudah aus. Dengan demikian kadar protein dalam darah tetap konstan dan normal selama puasa.
  • Racun-racun dan ampas metabolisme yang tidak bisa direcycle dibuang oleh organ-organ pembuangan. Dalam proses ini, beberapa gejala pengeluaran racun dapat terlihat seperti warna urine yang lebih keruh, pengeluaran mukus atau lendir melalui hidung (ingus), tenggorokan (riak) dan berlanjut melalui usus besar.
  • Dengan berkurangnya racun dalam tubuh akan meningkatkan sirkulasi oksigen dan nutrisi ke seluruh sel dan jaringan tubuh sehingga sel bisa memperbaiki diri dan meningkatkan fungsinya secara optimal

Makanan ideal untuk puasa

Junkfood (makanan sampah) adalah makanan yang berpotensi membentuk racun dalam tubuh. Junkfoodbukan hanya

fastfood. Semua makanan yang diproses sebenarnya sudah termasuk makanan sampah karena sebagian besar zat gizinya habis atau rusak. Makanan kalengan, makanan instant, daging olahan (bakso, sosis, kornet) bahkan makanan rumah yang berulangkali dipanaskan termasuk makanan sampah.

Makanan yang baik tapi dalam proses pencernaan tidak tercerna sempurna juga akan menjadi junkfooddi dalam tubuh.

Apa yang menyebabkan makanan tidak tercerna ?

  • Kombinasi jenis makanan yang terlalu beragam.
  • Komposisi dan jenis makanan tidak memperhitungkan keseimbangan asam-basa tubuh.
  • Makanan kurang lama dikunyah
  • Langsung menyantap makanan berat saat berbuka puasa

Pola makan yang menimbulkan makanan tidak tercerna, akan menyebabkan penumpukan makanan tak tercerna dalam kolon (usus besar). Kolon, sebagai bagian dari sistem pembuangan, merupakan organ yang tidak memiliki kemampuan mencerna makanan.

Secara alamiah, ampas akan dipadatkan ke dinding-dinding kolon, sehingga produksi mukus meningkat.

Mukus memang dibutuhkan dalam proses pembuangan, tetapi jika terbentuk secara berlebihan akan menjadi kerak dan bersama dengan ampas yang sudah mengeras akan membusuk menghasilkan gas toksik yang akan terserap ke dalam darah melalui poros-poros dinding usus, ikut sirkulasi darah sampai ke sel-sel jaringan dan sewaktu-waktu bisa menimbulkan masalah.

Pentingnya perilaku makan Setiap makanan harus diproses dahulu oleh enzim dalam kelenjar ludah mulut. Semakin lama kita mengunyah, produksi air liur meningkat, sehingga makanan lebih mudah ditelan dan kita tidak perlu sering minum selama makan. Enzim ikut bersama air liur, sehingga dengan lebih lama mengunyah, enzim mulut akan bekerja lebih aktif.

Sekitar 80% karbohidrat dicerna oleh enzim dalam kelenjar ludah mulut ini. Protein tercerna hanya 30% saja, sedangkan lemak sekitar 10%. Pencernaan karbohidrat baru dilanjutkan setibanya makanan di dalam usus halus. Lambung lebih banyak mencerna protein dan lemak.

baca selengkapnya atau download artikel disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s