Kisah US$ 18 Juta Dana Boedi Sampoerna di Century

Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – Nama Boedi Sampoerna saat ini seringkali dikaitkan dengan kasus Bank Century, berkaitan dengan pencairan dananya di Bank Century sebesar US$ 18 juta oleh Robert Tantular.

Berkaitan dengan berbagai tudingan yang ada, pengacara keluarga Boedi Sampoerna Eman Achmad mengklarifikasi mengenai dana-dana Boedi Sampoerna di Century.

Eman mengatakan, kejadian berawal pada Jumat 14 November 2008 malam, dimana telah terjadi pertemuan antara pihak Boedi Sampoerna dengan Robert Tantular di kantor Robert Tantular di Jakarta.

Kedatangan Boedi Sampoerna ke pertemuan itu sebagai nasabah yang meminta pertanggungjawaban Robert selaku orang yang berkuasa di Bank Century. Ini dilakukan Boedi Sampoerna karena beberapa hari sebelumnya Bank Century kalah kliring dan dia sering kesulitan untuk mencairkan simpanannya.

Dalam pertemuan tersebut, menurut Eman, Robert minta kepada Boedi Sampoerna untuk memindahkanbukukan depositonya sebesar US$ 96 juta dari Surabaya ke Jakarta dan memecahkannya menjadi kecil-kecil dengan alasan untuk memudahkan pencairan.

Dalam pertemuan itu, Boedi Sampoerna hanya menyetujui untuk memindahkan bukukan dari Surabaya ke Jakarta, dan dana itu harus tetap atas nama Boedi Sampoerna dan perusahaan miliknya PT Lancar Sampoerna Bestari.

Inilah yang dipahami oleh Boedi Sampoerna sebagai pemindahbukukan yaitu dari rekening Boedi Sampoerna dan PT Lancar Sampoerna Bestari di Surabaya ke rekening Boedi Sampoerna dan PT Lancar Sampoerna di Jakarta.

Kemudian dua hari kemudian, pihak Robert menyodorkan 247 lembar Negotiable Certificate Deposito (NCD) dengan total nilai US$ 42,5 juta.

“Pak Boedi tidak pernah setuju dengan NCD itu dan tetap berpegang pada sertifikat deposito asli sebagai bukti sah dana milik Boedi Sampoerna. Boedi Sampoerna tidak pernah menukar sertifikat deposito asli tersebut dengan NCD,” tutur Eman dalam keterangan yang diterima detikFinance, Senin (11/1/2010).

Jadi menurut Eman, tidak benar jika Boedi Sampoerna dikatakan merekayasa penerbitan NCD bersama-sama dengan Robert Tantular.

“Kita pakai logika saja kalau memang cara itu disetujui Boedi Sampoerna, kenapa tidak seluruh deposito atau dana simpanan Boedi Sampoerna di Bank Century yang dipecah-pecah menjadi NCD, kenapa hanya US$ 42,5 juta,” kata Eman.

Eman menjelaskan, kedatangan Boedi Sampoerna hanya semata-mata untuk meminta pertanggungjawaban Robert sebagai orang dilihat dan dirasakan oleh Boedi Sampoerna sangat berkuasa di Bank Century.

“Kedatangan tersebut bukan untuk hal lainnya apalagi memberikan pinjaman sejumlah US$ 18 Juta kepada Robert Tantular,” jelas Eman.

Kemudian, lanjut Eman, pada awal Desember atau setelah Bank Century diambil alih oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), pihak Boedi Sampoerna mendatangi direksi yang baru (Bank Mutiara) untuk menanyakan posisi dana deposito yang dipindahbukukan dari Surabaya ke Jakarta.

“Kami terkejut dengan penjelasan direksi Bank Century yang baru tersebut karena ternyata dana kami bukan dipindahkanbukukan oleh Robert ke rekening milik Boedi Sampoerna dan PT Lancar Sampoerna Bestari di Jakarta, tapi ke rekening penampungan,” kata Eman.

Dan sebagian diantaranya yaitu US$ 18 juta oleh Robert telah didebet untuk kepentingannya sendiri. Sampai dengan saat ini, lanjut Eman, pihaknya tidak habis pikir bagaimana mekanisme operasional bank tersebut karena bisa begitu saja mendebet deposito atas nama nasabahnya untuk dialihkan ke pihak lain tanpa instruksi pendebetan dari pihak pemilik deposito itu sendiri. Seharusnya BPK juga memeriksa ketidaklaziman ini.

Eman mengatakan, pendebetan dengan cara ini jelas melanggar, karena permintaan pemindahanbukuan yang disetujui pada pertemuan 14 November hanya ke rekening Boedi Sampoerna dan PT Lancar Sampoerna Bestari, bukan ke rekening penampungan. “Dan sama sekali tidak ada persetujuan atau konfirmasi dari Boedi Sampoerna kepada Bank Century untuk mendebet US$ 18 juta dari dana yang dipindahkan tersebut,” tuturnya.

Saat itulah pihak Boedi Sampoerna sadar bahwa sewaktu meminta untuk memindahbukukan dananya itu nampaknya sudah ada niat tidak baik dari Robert.

Karena dengan memasukannya ke rekening penampungan, seolah dana tersebut menjadi tidak bertuan dan karena itu Robert dengan kekuasaannya bisa langsung mencairkan dana untuk kepentingan dirinya tanpa diketahui dan disetujui oleh Boedi Sampoerna.

“Kalau kemudian Robert mengatakan bahwa ada persetujuan pinjam meminjam antara dia dengan Boedi Sampoerna sebesar US$ 18 juta seperti juga tertulis pada laporan audit BPK, itu adalah tidak benar. Meskipun Robert mengatakan bahwa dia mempunyai surat pengakuan utang, itu juga pernyataan sepihak karena Boedi Sampoerna sama sekali tidak pernah merasa memberikan pinjaman kepada Robert,” kata Eman.

Pengakuan Robert itu, lanjut Eman mempunyai dampak yang merugikan bagi Boedi Sampoerna, antara lain sampai saat ini Boedi Sampoerna tidak bisa mencairkan dananya sebesar US$ 18 juta itu dan dana yang lain juga menjadi sulit untuk ditarik.

Kemudian nama baik Boedi Sampoerna menjadi terganggu karena pengakuan sepihak Robert tersebut melahirkan tudingan dari berbagai kalangan bahwa Boedi Sampoerna bersekongkol dengan Robert untuk memanfaatkan dana LPS untuk kepentingan mereka.

“Padahal kenyataannya dalam kasus Bank Century Boedi Sampoerna adalah korban, bukan bagian dari masalah. Apalagi ikut berperan merancang skenario untuk memanfaatkan dana LPS bagi kepentingan pribadinya. Boedi Sampoerna ingin menjelaskan duduk persoalan sesungguhnya yang dia alami,” kata Eman.

“Itulah sebagian fakta dan data yang ingin kami jelaskan ke BPK. Penjelasan ini juga sangat penting karena dalam pengadilan Robert di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, majelis hakim hanya mempertimbangkan pengakuan Robert sehingga majelis melihat kasus pengambilan dana US$ 18 juta bukan sebagai suatu kesalahan,” tegas Eman.

“Kami berharap Jaksa Penuntut Umum dapat secara gigih membuktikan bahwa Robert benar telah mengambil dana sejumlah US$ 18 Juta tanpa persetujuan dari BS sehingga pada saatnya nanti Pengadilan Tinggi Jakarta yang memeriksa banding atas perkara ini, mempertimbangkan fakta-fakta ini,” imbuhnya.
(dnl/qom)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s