DPR: Keterangan Susno Janggal

Jumat, 8 Januari 2010 | 08:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua Komisi III DPR Azis Syamsuddin menilai janggal keterangan mantan Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Susno Duadji, yang mengaku tidak tahu-menahu dan tidak dilibatkan dalam tim yang mengusut pelaku teror terhadap mantan Ketua KPK Antasari Azhar.
“Masa ada tim yang bekerja tanpa sepengetahuan Kabareskrim. Ini aneh,” kata Azis kepada pers di Gedung DPR/MPR Jakarta, Kamis (7/1/2010).

Azis mengatakan, pengakuan Susno di PN Jakarta Selatan bahwa dirinya tidak ikut serta secara langsung ataupun tidak langsung dan tidak bertanggung jawab karena tidak pernah dilibatkan sama sekali dan justru ada tim lain di luar kendali Kabareskrim adalah satu hal yang seharusnya tidak perlu terjadi di institusi seperti Polri.

Susno Duadji mengaku sama sekali tidak mengetahui adanya pembentukan tim yang dibentuk Kapolri untuk mencari pelaku teror terhadap Antasari Azhar.

“Saya tidak tahu tim itu. Saya juga tahunya terakhir. Saya tidak tahu siapa pembentuk tim itu,” katanya dalam kesaksian di dalam persidangan mantan Ketua KPK Antasari Azhar dalam perkara dugaan pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasruddin Zulkarnaen, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis.

Susno menambahkan, dia mengetahui pembentukan tim itu setelah ramai diberitakan media massa dan persidangan.

“Pembentukannya saya tidak tahu. Setelah persidangan, baru tahu, menurut khalayak ramai,” katanya.

Dia mengatakan, yang punya otoritas dalam penanganan kasus itu yakni Irjen Pol Hadiatmoko—saat itu Wakabareskrim Mabes Polri—dengan langsung melapor ke Kapolri.

“Karena dia (Hadiatmoko) sudah punya otoritas. Jadi tidak perlu lapor ke saya. Dia lapor ke Kapolri. Saya tidak mengerti,” katanya.

Disebutkan, Irjen (Pol) Hadiatmoko menjabat sebagai ketua tim pengawas penyidikan.

Dia menjelaskan, kasus Antasari Azhar ditangani Polda Metro Jaya, dan pengawas penyidiknya ditunjuk Hadiatmoko. “Hadiatmoko langsung melapor ke Kapolri,” katanya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cirus Sinaga dalam dakwaannya menyebutkan adanya pembentukan tim pencari pelaku teror terhadap Antasari Azhar yang dipimpin oleh Kapolres Jaksel dan merupakan bentukan dari Kapolri.

Pembentukan tim itu setelah sebelumnya Antasari Azhar melaporkan adanya tindak teror terhadap dia dan istrinya melalui pesan singkat (SMS). Tim kemudian mendapatkan Nasruddin Zulkarnaen dan istri sirinya, Rani Juliani, di salah satu hotel di Kendari, Sulawesi Tenggara, dalam operasi penggerebekan narkoba.

Kemudian tim menyatakan tidak mendapatkan bukti bahwa almarhum Nasruddin melakukan teror terhadap Antasari Azhar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s