Tafsir Al Misbah : Tafsir Surah asy-Syams

Surah asy-Syams terdiri dari 15 ayat. Kata asy-Syams, yang berarti ‘Matahari’, diambil dari ayat pertama. Ayat-ayat surah asy-Syams disepakati turun sebelum Nabi berhijrah ke Madinah. Namanya yang dikenal dalam Mushhaf surah asy-Syams. Imam Bukhari dalam kitab shahih-nya menamainya surah wa asy-Syams wa Dhuhaha, sesuai bunyi ayat pertamanya. Nama ini lebih baik daripada sekadar menyebut surah asy-Syams karena ada surah lain yang juga menyebut kata asy-syams pada awalnya, yaitu surah at-Takwir. Tidak ada nama untuknya kecuali yang disebut ini. Tujuan utama surah ini adalah anjuran untuk melakukan aneka kebajikan dan menghindari keburukan-keburukan. Itu ditekankan dengan aneka sumpah yang menyebut sekian macam hal agar manusia memerhatikannya guna mencapai tujuan tersebut sebab, kalau tidak, mereka terancam mengalami bencana sebagaimana yang dialami oleh generasi terdahulu. Thabathaba’i menulis bahwa surah ini mengingatkan bahwa kebahagiaan manusia —yang mengenal takwa dan kedurhakaan berdasar pengenalan yang dilakukan Allah kepada-Nya— adalah dengan menyucikan dan mengembangkan dirinya dengan pengembangan yang baik serta menghiasinya dengan ketakwaan dan menghindarkannya dari segala kedurhakaan. Sebaliknya, ketidakberhasilan meraih sukses adalah dengan memendam potensi positif itu. Ini dibuktikan oleh surah ini dengan pengalaman pahit generasi terdahulu. Sayyid Quthub secara singkat melukiskan surah ini sebagai uraian menyangkut hakikat jiwa manusia serta potensi naluriahnya yang suci, peranan manusia terhadap dirinya, dan tanggung jawabnya menyangkut kesudahan hidupnya. Hakikat tersebut dikaitkan oleh surah ini dengan hakikat-hakikat yang terdapat di alam raya serta kenyataan-kenyataannya, sambil mengemukakan contoh dari kekecewaan yang menimpa mereka yang tidak menyucikan jiwanya. Al-Biqa’i memahami tema surah ini sebagai bukti tentang kuasa Allah mengendalikan jiwa manusia —yang merupakan matahari jasmaninya— menuju kebahagiaan atau kesengsaraan, sebagaimana kuasa-Nya mengendalikan matahari bahkan seantero alam raya ini. Namanya, asy-Syams (Matahari), menunjuk tujuan tersebut. Demikian lebih kurang al-Biqa’i Surah ini dinilai sebagai surah yang ke-26 dari segi urutan turun surah. Ia turun sesudah al-Qadr dan sebelum surah al-Buruj. Jumlah ayat-ayatnya menurut perhitungan banyak ulama sebanyak 15 ayat.

Karena itu, pada awal surah ini Allah bersumpah bahwa hal itu demikian berdasar sunnah/ ketentuan yang ditetapkan dan berlaku umum bagi siapa pun. Untuk menekankan hal tersebut Allah dalam surah ini bersumpah dengan tujuh fenomena alam:

1. Matahari dan cahayanya di pagi hari.
2. Bulan yang memantulkan cahaya matahari ketika mengiringinya.
3. Siang ketika ia menampakkan dengan jelas keberadaan matahari.
4. Malam ketika menutupi cahaya matahari dengan kegelapan.
5. Langit dengan penciptaan dan peninggiannya yang demikian hebat.
6. Bumi serta penghamparannya yang demikian mengagumkan.
7. Jiwa manusia serta penyempurnaan ciptaannya yang diilhami Allah potensi kedurhakaan dan ketakwaannya.

Setelah bersumpah dengan hal-hal di atas, ayat 9 dan 10 menjelaskan apa yang hendak ditekankan-Nya dengan sumpah-sumpah di atas, yaitu sungguh beruntung meraih segala apa yang diharapkannya siapa yang menyucikan jiwa dan mengembangkan dirinya (9) dan sungguh merugilah siapa yang memendamnya, yakni menyembunyikan kesucian jiwanya (10).

Pelajaran yang Dapat Ditarik Dari Ayat 1-10

1. Manusia adalah makhluk yang memiliki tabiat, potensi, dan kecenderungan ganda, yakni positif ke arah baik atau negatif ke arah buruk. Jika ingin berbahagia, maka dia harus mengembangkan diri ke arah yang baik. Karena itu, kedurhakaan terjadi akibat ulah manusia sendiri yang enggan menggunakan potensi positifnya.

2. Allah menganugerahi manusia pengetahuan mendasar tentang hal-hal yang bersifat aksiomatik; bermula dengan dorongan naluriah kepada hal-hal yang bermanfaat, seperti keinginan bayi menyusu, dorongan untuk menghindari bahaya, dan lain-lain hingga mencapai tahap awal dari kemampuan meraih pengetahuan yang bersifat akliah. Allah juga menganugerahi manusia potensi untuk mengetahui hal-hal mendasar menyangkut kebaikan dan keburukan.

3. Daya-daya manusia sangat banyak dan dapat terus-menerus dikembangkan, karena itu yang berbahagia adalah yang terus mengembangkan daya-daya itu.

4. Manusia tidak dituntut untuk membunuh dan memendam nafsunya. Karena nafsu pun dibutuhkan dalam hidup ini, seperti nafsu makan, seks, amarah terhadap keburukan. Yang dituntut adalah pengendalian nafsu itu agar mengarah kepada kebaikan dan tidak melampaui batas.

5. Penyucian jiwa adalah upaya sungguh-sungguh agar matahari kalbu manusia tidak mengalami gerhana, dan bulannya selalu memberi penerangan. Ia harus berusaha agar siangnya tidak keruh, dan tidak pula kegelapannya bersinambung. Cara untuk meraih hal tersebut adalah memerhatikan hal-hal spiritual yang serupa dengan hal-hal material yang digunakan Allah bersumpah itu. Hal spiritual yang serupa dengan matahari adalah tuntunan kenabian. Semua yang berkaitan dengan kenabian memiliki cahaya benderang dan kesucian yang mantap.

sumber: Detik.com

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s